WHO Tetapkan Wabah Ebola Kongo Darurat Internasional, Ancaman Penyebaran Kian Mengkhawatirkan

Wabah paling mematikan di RD Kongo terjadi pada 2018 hingga 2020. Dalam periode itu, hampir sebanyak 2.300 orang meninggal dunia. (Foto Reuters).

Republish.id, INTERNASIONAL – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization resmi menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Status ini diumumkan menyusul meningkatnya kasus dan risiko penyebaran lintas negara di kawasan Afrika Tengah.

WHO menyebut wabah yang terjadi di Provinsi Ituri, wilayah timur RD Kongo, telah mencatat sekitar 246 kasus suspek dan 80 kematian. Meski demikian, lembaga kesehatan dunia itu menegaskan situasi tersebut belum memenuhi kriteria pandemi global.

Namun, WHO memperingatkan wabah berpotensi menjadi “jauh lebih besar” dibanding angka yang saat ini terdeteksi dan dilaporkan. Risiko penyebaran lokal maupun regional dinilai sangat tinggi dan dapat menimbulkan dampak signifikan.

Wabah kali ini disebabkan oleh galur Bundibugyo, salah satu spesies virus Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat yang disetujui secara resmi.

Gejala awal Ebola meliputi demam, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Dalam kondisi lebih parah, penderita dapat mengalami muntah, diare, ruam, hingga perdarahan internal maupun eksternal.

Baca Juga :  Mengenal Forrest Li: Pemilik Shopee yang Sukses Jadi Miliarder

Ebola sendiri merupakan penyakit langka namun mematikan yang ditularkan melalui cairan tubuh terinfeksi seperti darah dan muntahan. Virus ini diyakini pertama kali menyebar dari hewan terinfeksi, terutama kelelawar pemakan buah.

WHO mencatat saat ini terdapat delapan kasus yang telah dikonfirmasi laboratorium. Kasus tersebar di tiga zona kesehatan, termasuk Kota Bunia sebagai ibu kota Provinsi Ituri, wilayah pertambangan emas Mongwalu, dan Rwampara.

Satu kasus juga telah terkonfirmasi di Kinshasa, ibu kota RD Kongo. Pasien diketahui baru melakukan perjalanan dari Provinsi Ituri.

Selain di RD Kongo, penyebaran virus juga dilaporkan telah mencapai negara tetangga, Uganda. Dua kasus terkonfirmasi ditemukan di negara tersebut.

Pejabat Uganda menyatakan seorang pria berusia 59 tahun yang meninggal pada Kamis (14/05) dinyatakan positif Ebola. Pemerintah Uganda menyebut pasien tersebut merupakan warga negara Kongo yang jenazahnya telah dipulangkan ke RD Kongo.

Sementara itu, kantor berita AFP melaporkan satu kasus Ebola juga terkonfirmasi di Kota Goma, wilayah timur yang saat ini dikuasai kelompok pemberontak M23.

Baca Juga :  Danantara Akuisisi Hotel dan Lahan Strategis di Mekkah, Bidik Layanan Jemaah Haji–Umrah Indonesia

WHO menilai situasi keamanan yang tidak stabil, krisis kemanusiaan berkepanjangan, tingginya mobilitas penduduk, serta banyaknya fasilitas kesehatan informal di wilayah terdampak menjadi faktor utama yang memperbesar risiko penyebaran wabah.

Negara-negara yang berbatasan dengan RD Kongo seperti Rwanda dan Sudan Selatan juga dinilai berada dalam risiko tinggi akibat aktivitas perdagangan dan perjalanan lintas batas.

Pemerintah Rwanda bahkan telah memperketat pemeriksaan di perbatasan dengan RD Kongo sebagai “langkah pencegahan”. Kementerian Kesehatan Rwanda menyatakan sistem pengawasan telah diperkuat dan tim kesehatan disiagakan untuk memastikan deteksi dini serta respons cepat.

WHO menyarankan RD Kongo dan Uganda segera membentuk pusat operasi darurat untuk memantau penyebaran, melacak kontak, serta memperkuat langkah pencegahan infeksi.

Kasus yang telah terkonfirmasi juga diminta segera diisolasi dan dirawat hingga dua hasil tes virus Bundibugyo menunjukkan hasil negatif dengan jeda minimal 48 jam.

Meski status darurat internasional telah diumumkan, WHO menegaskan kondisi ini tidak berarti dunia berada di ambang pandemi seperti Covid-19.

Baca Juga :  Janji Kamala Harris Setelah Resmi Jadi Capres Demokrat

“Namun hal ini mencerminkan bahwa situasinya cukup kompleks sehingga memerlukan koordinasi internasional,” kata Dr Amanda Rojek dari Pandemic Sciences Institute di Universitas Oxford.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa saat ini masih terdapat “ketidakpastian signifikan mengenai jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi dan penyebaran wabah tersebut secara geografis”.

Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di wilayah yang kini menjadi RD Kongo dan diyakini berasal dari kelelawar. Sejak saat itu, negara tersebut telah mengalami 17 wabah Ebola.

Menurut WHO, tingkat kematian Ebola rata-rata mencapai sekitar 50 persen dan hingga kini belum ada obat yang terbukti benar-benar efektif menyembuhkan penyakit tersebut.

Selama 50 tahun terakhir, sekitar 15.000 orang dilaporkan meninggal akibat Ebola di berbagai negara Afrika. Wabah paling mematikan di RD Kongo terjadi pada 2018 hingga 2020 dengan hampir 2.300 korban jiwa, sementara tahun lalu sebanyak 45 orang meninggal akibat wabah di wilayah terpencil.

"Mengawali karier di dunia jurnalistik tahun 2019 dan masih aktif menulis di Media Online Republish.id hingga saat ini."