Republish.id, INTERNASIONAL – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menghantam dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab (UEA) di Selat Hormuz di tengah serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang berlangsung selama tiga malam berturut-turut.
UEA menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang “terang-terangan”, sementara militer AS menyatakan operasinya bertujuan melemahkan “kemampuan Iran untuk menyerang pelayaran komersial”.
Pemerintah UEA menyatakan dua kapal tanker, yakni kapal tanker minyak mentah Mombasa B dan kapal tanker gas alam cair (LNG) Al Bahiya, menjadi sasaran rudal jelajah Iran saat melintasi Selat Hormuz di perairan Oman pada malam hari.
Serangan itu menewaskan seorang awak kapal berkewarganegaraan India dan melukai delapan orang lainnya, terdiri atas enam warga India dan dua warga Ukraina. Kedua kapal juga dilaporkan mengalami kerusakan serta kebakaran.
Abu Dhabi mengecam insiden tersebut sebagai tindakan yang “terang-terangan”, “pelanggaran serius”, dan “pelanggaran jelas” terhadap hukum internasional. Pemerintah UEA menegaskan memiliki “hak penuh untuk merespons” dengan “segala langkah yang diperlukan”.
Belakangan, IRGC mengonfirmasi serangan itu melalui pernyataan yang dipublikasikan di Telegram. Dalam keterangannya, IRGC menyebut kedua kapal tanker mengabaikan peringatan, mematikan sistem navigasi, dan berupaya melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau.
IRGC juga menyatakan bahwa “kerja sama dengan musuh agresor” hanya akan berujung pada penyesalan, kerusakan, dan tertundanya pembukaan kembali jalur pelayaran di selat tersebut, serta berpotensi memicu “krisis energi global”.
IRGC juga mengklaim telah menargetkan fasilitas militer AS di Yordania dan Bahrain dalam serangan semalam. Sementara itu, militer AS menyatakan telah menyelesaikan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran yang bertujuan melemahkan “kemampuan Iran untuk menyerang pelayaran komersial”.
Presiden Donald Trump mengatakan AS menyerang Iran dengan “sangat keras” di tengah meningkatnya eskalasi konflik. Ia juga mengumumkan AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan akan mengenakan biaya sebesar 20% terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz.
Menurut Trump, langkah tersebut akan mencegah “kapal-kapal Iran maupun pelanggan Iran” menggunakan jalur pelayaran strategis itu, namun “semua negara lain akan tetap memiliki akses yang adil dan terbuka ke Selat Hormuz”. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Selasa pukul 16.00 waktu Timur AS.
Menanggapi kebijakan itu, Menteri Luar Negeri Iran mengatakan pihak yang menyediakan jalur pelayaran yang aman “seharusnya memperoleh kompensasi atas layanan tersebut”. Ia juga menegaskan Iran akan tetap menjadi “PENJAGA” Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran menyatakan telah membalas serangan AS dengan menargetkan pangkalan militer Amerika di Kuwait, Yordania, dan Bahrain, serta fasilitas radar di Oman. Sebelumnya, AS mengaku menyerang sejumlah sasaran militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, radar pesisir, serta lokasi peluncuran rudal dan drone.
Informasi yang dihimpun, pergerakan dua kapal tanker yang diserang menggunakan citra satelit dan data pelacakan maritim. Berdasarkan data MarineTraffic, Mombasa B berangkat dari terminal minyak Zirku di UEA pada 2 Juli menuju Khor Fakkan.
Citra satelit menunjukkan kapal tersebut melakukan transfer muatan ke kapal tanker He Rong Hai di lepas pantai Fujairah pada 8 Juli. Menurut TankerTrackers, sekitar 1,9 juta barel minyak UEA dipindahkan dalam proses tersebut.
Sementara itu, kapal LNG Al Bahiya tidak menyiarkan lokasi publiknya selama lebih dari 14 hari. Data MarineTraffic terakhir menunjukkan kapal berada di lepas pantai India bagian barat, namun analisis TankerTrackers yang didukung citra satelit menunjukkan kapal sebenarnya berada di dekat Ras Laffan pada 22 Juni. Temuan itu mengindikasikan adanya dugaan manipulasi data lokasi publik atau spoofing.
Ketegangan di Selat Hormuz turut memengaruhi pasar energi global. Pada perdagangan Selasa pagi, harga minyak mentah Brent naik 1,9% menjadi US$84,87 per barel, sedangkan minyak mentah AS menguat 2% menjadi US$79,75 per barel seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.












Leave a Reply
View Comments