Tajuk – Kegagalan dalam hubungan tidak selalu berhenti pada perpisahan dua orang dewasa. Dalam banyak kasus, ia berlanjut menjadi kehilangan yang jauh lebih dalam: berkurangnya kehadiran seorang ayah dalam kehidupan anaknya sendiri. Inilah sisi sunyi dari perceraian yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Sosok yang menjadi pusat tulisan ini telah melewati rangkaian kegagalan dalam hubungan, hingga akhirnya pernikahan yang dibangun dengan harapan tidak dapat dipertahankan. Namun yang paling berat bukanlah berakhirnya ikatan pernikahan, melainkan kenyataan bahwa sejak saat itu, kehadirannya sebagai orang tua tidak lagi utuh.
Anak yang dulu tumbuh dalam rutinitas bersama kini harus berbagi waktu. Hari-hari yang sebelumnya diisi kebersamaan berubah menjadi jadwal. Kehadiran yang semula alami berubah menjadi terbatas. Dan di sanalah rasa kehilangan itu tumbuh—tanpa suara, tanpa dramatika, tetapi menetap.
Anak sebagai Pihak yang Tidak Pernah Memilih
Dalam konflik dan perpisahan orang dewasa, anak sering kali berada pada posisi yang paling rentan. Ia tidak pernah memilih perpisahan itu, namun harus menyesuaikan diri dengan dampaknya.
Psikolog keluarga Paul Gunadi pernah menyampaikan pandangan yang relevan:
“Anak sering menjadi pihak yang paling menderita dalam konflik orang dewasa, meskipun mereka tidak pernah memilih konflik itu.”
Pernyataan ini menggambarkan realitas yang kerap terjadi. Perpisahan bukan hanya memutus hubungan suami dan istri, tetapi juga mengubah pola kehadiran orang tua dalam kehidupan anak. Kehilangan itu tidak selalu berarti benar-benar terpisah, melainkan kehilangan kebersamaan sehari-hari yang sebelumnya membentuk rasa aman.
Bagi seorang ayah, jarak tersebut sering melahirkan rasa bersalah yang tidak mudah diungkapkan. Bukan karena tidak mencintai, melainkan karena menyadari bahwa keputusan orang dewasa membawa konsekuensi besar bagi tumbuh kembang anak.
Kehilangan yang Tidak Selalu Terlihat
Kehilangan anak dalam konteks perpisahan jarang disadari oleh lingkungan sekitar. Secara kasat mata, sang anak masih ada, masih bisa ditemui. Namun secara emosional, ada jarak yang tidak bisa disamakan dengan kebersamaan sebelumnya.
Psikolog anak dan keluarga Seto Mulyadi pernah menyampaikan:
“Bagi anak, kehadiran orang tua bukan soal banyaknya waktu, tetapi rasa aman yang konsisten.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa yang hilang bukan hanya durasi kebersamaan, tetapi kontinuitas peran. Ketika kehadiran menjadi tidak menentu, anak berisiko kehilangan rasa aman yang dulu ia miliki. Dan bagi orang tua, kesadaran ini sering datang bersama penyesalan yang terlambat.
Tanggung Jawab yang Tidak Berakhir
Dalam buku Seni Mencintai, psikolog dan pemikir Erich Fromm menulis:
“Cinta adalah tindakan tanggung jawab, bukan sekadar perasaan.”
Kutipan ini relevan dalam konteks kegagalan pernikahan dan peran sebagai orang tua. Pernikahan boleh berakhir, tetapi tanggung jawab terhadap anak tidak pernah selesai. Justru dalam kondisi terpisah, tanggung jawab itu menuntut kedewasaan yang lebih besar.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mencari pembenaran atas kegagalan. Ia adalah pengakuan bahwa di balik runtuhnya sebuah pernikahan, ada kehilangan yang tidak sederhana—kehilangan peran, kehilangan momen, dan kehilangan kebersamaan yang tidak bisa diulang.
Namun dari kegagalan dan kehilangan itu, muncul satu kesadaran penting: meski seseorang gagal sebagai pasangan, ia masih memiliki pilihan untuk tidak gagal sebagai orang tua. Kehadiran mungkin tidak lagi utuh, tetapi tanggung jawab dan kepedulian harus tetap dijaga.(*)













Leave a Reply
View Comments