Republish.id, NASIONAL – Indonesia memasuki tahun 2025 dengan sederet tantangan besar terkait lingkungan hidup dan keberlanjutan. Environmental Outlook 2025 yang dirilis oleh WALHI menyoroti bagaimana ambisi pembangunan nasional sering kali berbenturan dengan kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat.
Lingkungan Hidup di Ambang Krisis
Selama beberapa tahun terakhir, kebijakan yang lebih pro-investasi seperti UU Cipta Kerja dan proyek strategis nasional, seperti Food Estate, memicu deforestasi besar-besaran dan krisis agraria.
Sebagai contoh, proyek Food Estate di Papua dan Kalimantan Tengah mengorbankan ratusan ribu hektare hutan, mengancam keanekaragaman hayati, dan merampas tanah masyarakat adat.
WALHI mencatat, hingga tahun 2024, proyek ini justru gagal mencapai target kedaulatan pangan yang dijanjikan. Dampak buruknya juga terasa di sektor sosial.
Konflik agraria yang melibatkan tanah adat dan petani lokal semakin meningkat. Tahun 2023 mencatat 346 konflik agraria yang memengaruhi lebih dari 135.000 kepala keluarga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa proyek ambisius tidak hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga menciptakan ketidakadilan baru di tengah masyarakat.
“Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini adalah akibat dari kebijakan yang tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan keadilan. Kita menghadapi ancaman serius, mulai dari krisis iklim hingga konflik agraria yang terus meningkat,” bunyi Environmental Outlook 2025 WALHI.
Utang dan Lingkungan, Dua Krisis yang Saling Berkaitan
Pada akhir 2024, utang luar negeri Indonesia melampaui Rp8.000 triliun, dengan bunga utang sebesar Rp552,8 triliun yang harus dibayar di 2025. Untuk menutupi defisit anggaran, pemerintah membuka lebih banyak izin eksploitasi sumber daya alam.
Ironisnya, langkah ini hanya memperparah kerusakan lingkungan tanpa memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat.
Pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2% di tahun 2024, namun di balik angka tersebut tersembunyi realitas bahwa keberlanjutan lingkungan menjadi korban.
Hilirisasi nikel yang digembar-gemborkan sebagai motor ekonomi malah menjadi sumber kerusakan lingkungan baru, terutama di wilayah Maluku dan Sulawesi.
Bencana Ekologis yang Mengancam
WALHI memprediksi peningkatan bencana ekologis di tahun 2025 akibat degradasi lingkungan. Banjir, longsor, hingga kebakaran hutan menjadi risiko nyata. Proyek Food Estate misalnya, menyebabkan alih fungsi lahan gambut secara masif di Kalimantan Tengah.
Tanpa kajian dampak lingkungan yang memadai, proyek ini justru memicu banjir dan kerusakan tanah yang mengancam keberlanjutan hidup petani lokal.
Di sisi lain, perubahan iklim memperburuk situasi ini.
Laporan WALHI menyebutkan bahwa kebijakan pemerintah belum serius dalam menekan emisi karbon, meskipun dampaknya sudah nyata dirasakan di berbagai daerah.
Rekomendasi WALHI: Arah Baru untuk Indonesia
Untuk menghindari dampak yang lebih buruk, WALHI menyerukan kepada pemerintah untuk:
• Menghentikan proyek yang tidak berkelanjutan seperti Food Estate.
• Memprioritaskan perlindungan hutan dan lahan gambut.
• Mengembalikan hak tanah masyarakat adat yang dirampas.
• Melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan terkait lingkungan.
• Meningkatkan komitmen penurunan emisi karbon dan mempercepat transisi energi terbarukan.
Harapan di Tengah Tantangan
Indonesia masih memiliki peluang untuk mengubah arah. Dengan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan, pemerintah dapat memanfaatkan kekayaan alam secara bijak tanpa merusaknya.
Tahun 2025 menjadi penentu apakah bangsa ini memilih jalan keluar dari krisis atau terus melanjutkan keterpurukan.
Keterlibatan masyarakat juga menjadi kunci penting dalam mengawal isu-isu lingkungan. Dukungan publik terhadap gerakan-gerakan peduli lingkungan, seperti yang diusung oleh WALHI, perlu ditingkatkan agar suara rakyat didengar.
“Bukan hanya masa depan lingkungan hidup yang dipertaruhkan, tetapi juga kedaulatan bangsa dan kesejahteraan generasi mendatang,” bunyi Environmental Outlook 2025 WALHI.
Apakah Anda siap untuk mengambil bagian dalam perjuangan menjaga lingkungan Indonesia?












Leave a Reply
View Comments