Republish.id, SULTENG – Gaya reses anggota DPRD Sulteng Haris Julianto benar-benar tak biasa. Ketika banyak wakil rakyat muncul dengan agenda yang sudah dikemas sendiri, legislator dapil Buol-Tolitoli ini justru meminta kepala desa terlebih dahulu “menyurati” dirinya sebelum ia turun ke lapangan. Hasilnya bukan main: usulan lebih tertata, program tepat sasaran, dan Pokir yang berhasil dihimpun menembus Rp 2,6 miliar.
Biasanya reses berlangsung dengan pola baku: anggota dewan datang, warga menyampaikan keluhan, lalu tindak lanjutnya tidak jelas ke mana arah. Namun Haris memilih jalur berbeda.
Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dari Komisi II tersebut mengungkapkan, metode yang ia terapkan sengaja dibuat “tampil beda” agar aspirasi masyarakat benar-benar sesuai kebutuhan lapangan.
“Reses terakhir saya di Paleleh, saya bikin tampil beda. Saya minta kepala desa menyurati saya. Jadi ketika saya hadir, bisa sesuai dengan keinginan masyarakat,” ungkap wakil rakyat dari dapil Buol-Tolitoli ini saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (08/12).
Tak Hanya Mendengar, Tapi Minta Usulan Tertulis
Tidak berhenti di sana, Haris mendorong setiap aspirasi dituangkan dalam proposal jelas dan terstruktur. Bukan untuk mempersulit, melainkan agar proses pengawalan program lebih mudah dan tepat sasaran.
“Setiap orang yang reses, buatkan usulan dan lihat berapa kelompok yang diminta,” jelasnya.
Metode tersebut terbukti efektif. Pokok Pikiran DPRD (Pokir) yang berhasil ia kumpulkan kini mencapai Rp 2,6 miliar — angka yang sangat signifikan untuk skala legislator provinsi.
Jalur Kilat: Proposal Langsung ke Gubernur
Lebih menarik lagi, Haris merancang jalur percepatan agar aspirasi tidak tersendat dalam birokrasi legislatif. Ia mendorong masyarakat untuk mengajukan proposal langsung kepada gubernur, sementara DPRD hanya menerima tembusan untuk dibahas pada rapat paripurna.
“Saya minta proposal itu diajukan ke gubernur, ke kami tinggal tembusan. Nanti di rapat paripurna itu akan dibahas.”
Jenis bantuan yang diakomodasi melalui Pokir pun menyesuaikan kebutuhan spesifik tiap desa. “Pokir untuk bantuan tergantung dengan kebutuhan dari desa,” tegasnya.
Dorong Hilirisasi Jagung dan Percaya Kepada Bupati
Selain bantuan dan infrastruktur, Haris getol mengangkat pentingnya hilirisasi komoditas pertanian khususnya jagung sebagai motor peningkatan ekonomi petani. Ia menyampaikan keyakinan penuh pada kemampuan pemerintah daerah menjalankan visi tersebut.
“Percayakan sama bupati, apa yang menjadi harapan masyarakat ke dia. Petani bisa makmur, karena beliau punya visi dan misi,” ujarnya penuh optimisme.
Gagasan Besar: Tambang Buol Dikelola Orang Buol
Gagasan paling progresif Haris tampak dalam pandangannya terhadap pengelolaan sumber daya alam daerah. Merujuk pada Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di Bodi, ia menegaskan bahwa kekayaan Buol seharusnya dikelola oleh masyarakat Buol sendiri.
“Buol itu kaya sebenarnya. Baiknya sumber daya alam itu dikelola oleh orang Buol,” tegasnya.
“Buatlah yayasan atau koperasi yang dikelola oleh orang Buol. Misalnya masyarakat buat yayasan untuk mengelola pertambangan,” lanjutnya.
Visi besarnya sederhana: kekayaan daerah harus dinikmati oleh masyarakat lokal, bukan justru pihak luar.
Reses Versi Haris: Bukan Seremonial, Tapi Kerja Konkret
Pendekatan Haris Julianto menjadikan reses bukan sekadar ritual politik, melainkan forum produktif yang menghasilkan solusi, program terukur, dan perencanaan jelas.
Dengan sistem “surat dari kades”, proposal resmi, jalur percepatan ke gubernur, serta capaian Pokir Rp 2,6 miliar, ia menunjukkan bahwa reses bisa menjadi alat nyata untuk membangun.
Haris Julianto sendiri merupakan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah Komisi II yang membidangi UMKM, pertanian, perikanan, dan pertambangan untuk daerah pemilihan Buol-Tolitoli.










Leave a Reply
View Comments