Republish.id, BITUNG – Ketua Fraksi NasDem DPRD Kota Bitung, Ramlan Ifran, mengaku kecewa dan marah setelah menemukan paku tripleks di dalam kue panada yang disajikan Pemerintah Kota Bitung dalam rangkaian upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).
Ramlan saat itu hadir bersama sejumlah anggota DPRD Kota Bitung sebagai tamu undangan dalam upacara yang digelar di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Bitung.
Benda berbahaya tersebut ditemukan ketika dirinya sedang menyantap panada yang disediakan dalam kotak konsumsi. Awalnya, Ramlan mengira benda keras yang berada di dalam makanan tersebut merupakan tulang.

Namun setelah diperiksa, benda itu ternyata paku tripleks.
“Saya kira tulang, ternyata paku tripleks,” kata Ramlan.

Ia mengaku sempat marah dan langsung menyampaikan persoalan tersebut kepada Kepala Bagian Umum Pemerintah Kota Bitung, Estefanus Sadrak Tacasily SE ME alias Cinong.
Ramlan menilai persoalan tersebut bukan hanya menyangkut rasa makanan, tetapi menyangkut keselamatan orang yang mengonsumsinya.
“Kalau tulang, oke. Kalau paku, ini saya tidak bisa terima. Saya akan sampaikan di forum resmi, termasuk dalam paripurna,” tegasnya sembari mengatakan bersedia menunjukkan bukti paku yang hampir ia telan.
Menurut Ramlan, kejadian tersebut sangat berbahaya karena paku bisa menyebabkan luka serius apabila tertelan.
Bahkan, ia melontarkan kritik keras terhadap proses pengadaan konsumsi yang menurutnya perlu dievaluasi secara menyeluruh.
“Kecewa dengan pengadaan makanan itu. Bukan soal rasa. Bagaimana bisa sampai seperti ini? Ini pengadaan pemerintah, harusnya tidak asal-asalan,” ujarnya.
Ramlan juga menyoroti kelengkapan konsumsi yang dibagikan. Menurutnya, selain persoalan paku dalam makanan, dirinya tidak menemukan sedotan minuman di dalam kotak konsumsi tersebut.
Ia menilai penyedia makanan harus bertanggung jawab atas kualitas makanan yang diberikan kepada para tamu undangan.
“Kalau memang tidak sengaja, tetap harus dievaluasi. Yang punya pengadaan ini harus di-blacklist. Jangan lagi order makanan ke mereka,” katanya.
Ramlan bahkan menyinggung risiko yang jauh lebih fatal jika makanan tersebut dikonsumsi pejabat atau masyarakat tanpa terlebih dahulu memeriksa isinya.
“Kalau anggota DPRD yang makan kemudian mati, masih ada 29 orang. Tapi kalau wali kota yang makan, apa yang terjadi?” ujarnya dengan nada kesal.
Ia menegaskan persoalan tersebut akan dibawa ke forum resmi DPRD Kota Bitung agar tidak berhenti sebagai insiden konsumsi semata.
“Kalau sampai terjadi ke masyarakat, kasihan. Banyak perwakilan masyarakat yang hadir dan bisa saja mereka makan makanan itu,” katanya.
Ramlan meminta Pemerintah Kota Bitung tidak menganggap remeh kejadian tersebut. Menurutnya, penyedia konsumsi untuk kegiatan pemerintahan harus memenuhi standar keamanan dan kelayakan makanan.
“Kalau mau sekalian racun, jangan hanya paku,” sentil Ramlan kecewa.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi serius bagi Pemkot Bitung, khususnya pihak yang bertanggung jawab atas pengadaan konsumsi kegiatan pemerintahan, agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Semoga ini menjadi bahan evaluasi kedepan agar kiranya lebih teliti lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, Kabag Umum Pemkot Bitung, Estefanus Sadrak Tacasily SE ME alias Cinong saat dikonfirmasi perihal masalah tersebut belum memberikan tanggapan hingga berita ini terbit.


















Leave a Reply
View Comments