Republish.id, BOLTARA – Bupati Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Sirajudin Lasena, secara resmi membuka Kampanye Literasi dalam rangka peringatan World Book Day 2026 di SMA Negeri 1 Bintauna. Kegiatan ini mengusung tema “menjahit harapan, merajut masa depan” dan menjadi momentum penting dalam mendorong budaya baca di daerah.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada panitia, pegiat literasi, serta seluruh pihak yang terlibat. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak boleh dipandang sebagai agenda seremonial belaka.

Menurutnya, kampanye literasi harus dimaknai sebagai langkah strategis untuk memperkuat fondasi pembangunan daerah. Pasalnya, kualitas sumber daya manusia kini menjadi faktor utama dalam menarik investasi.
Bupati menekankan, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencerminkan kesiapan masyarakat menghadapi perubahan dan peluang ekonomi. Ia mengingatkan bahwa investor saat ini tidak lagi hanya melihat potensi sumber daya alam, melainkan juga kualitas manusia di dalamnya.
“Daerah yang masyarakatnya melek huruf akan lebih siap menerima investasi, lebih mampu menyerap tenaga kerja, dan lebih cepat berkembang,” tegasnya, Kamis (23/04/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik tersirat terhadap daerah yang masih menempatkan literasi sebagai isu pinggiran. Padahal, tanpa budaya literasi yang kuat, percepatan pembangunan akan sulit tercapai secara berkelanjutan.
Olehnya, Bupati mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, hingga komunitas, untuk menjadikan literasi sebagai gerakan kolektif. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar literasi tidak berhenti pada slogan.
Di akhir sambutannya, ia kembali menegaskan pentingnya membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memilah informasi dan mengambil keputusan secara bijak di tengah derasnya arus informasi.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Umum Putra Putri Literasi Sulawesi Utara sekaligus Ketua Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Sulawesi Utara, Standius Bara Prima, Staf Khusus Gubernur Bidang Kepemudaan Farist Soeharyo, Staf Khusus Gubernur Bidang Informasi dan Teknologi Januardo Binilang, serta sejumlah tokoh pendidikan, akademisi, dan pelajar.

Kehadiran berbagai pihak tersebut memperlihatkan bahwa isu literasi mulai mendapat perhatian luas. Namun demikian, tantangan terbesar tetap pada konsistensi implementasi di lapangan—apakah gerakan ini benar-benar berkelanjutan, atau kembali berhenti sebagai agenda tahunan semata.










Leave a Reply
View Comments