Sukseskan! Haul ke 56 Alhabib Idrus bin Salim Aljufri 

“Sukseskan Haul Alallamah Alhabib Idrus bin Salim Aljufri yang ke 56. Semoga kita semua bisa di beri kesempatan untuk hadir dalam kegiatan ini pada tanggal 21 April 2024, 12 Syawal 1445 H. Bertempat di Kompleks Alkhairaat Pusat Jln. Sis Aljufrie No. 44 Kota Palu Sulawesi Tengah.”

***

Republish.id, NASIONAL – Masyarakat Palu akan kembali meramaikan hari kematian Pendakwah dan pendiri Alkhairaat Habib Idrus bin Salim Al Jufri pada 21 April 2024.

Beliau adalah pendakwah asal Hadhramaut yang menguatkan keislaman masyarakat Sulawesi. Nama lengkapnya adalah Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau lebih dikenal dengan Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau Guru Tua.

Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, 15 Maret 1892 dan Wafat di Palu, Sulawesi Tengah, 22 Desember 1969 pada umur 77 tahun.

Baca Juga :  Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina Gelar Aksi Solidaritas dan Shalat Gaib Depan Kedubes AS

Guru tua merupakan tokoh pejuang di Provinsi Sulawesi Tengah dalam bidang pendidikan agama Islam, sepanjang hidupnya, ulama yang akrab disapa Guru Tua ini dikenal sebagai sosok yang cinta ilmu.

Pendirian Lembaga

Beliau mendirikan lembaga pendidikan Islam Alkhairaat. Alkhairaat didirikan di Palu, Sulawesi Tengah, kala usia Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri menginjak 41 tahun.

Habib Idrus dianggap sebagai inspirator terbentuknya sekolah di berbagai jenis dan tingkatan di Sulawesi Tengah yang dinaungi organisasi Alkhairaat.

Namanya Diabadikan di bandara Kota Palu

Pada 2014, nama Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri juga diabadikan sebagai nama baru bandara Kota Palu dan Provinsi Sulawesi Tengah.

Sebelumnya, bandara kebanggaan Kota Palu bernama Bandara Mutiara atas pemberian dari presiden Soekarno, saat pertama kali dioperasikan 1954 dengan nama Bandara Masovu, namun kemudian berganti nama sejak 28 Februari 2014.

Baca Juga :  Dari Pelabuhan ke Rumah, Pelindo Multi Terminal Lembar Pastikan Setiap Penumpang Tetap Terhubung

Perjalanan Dakwah

Beliau memutuskan untuk pergi dari negerinya dan meluaskan dakwah ke Indonesia tahun 1920-an. Beliau sangat menjunjung tinggi negeri ini.

Orang akan teringat betapa kecintaannya kepada negerinya yang kedua ini dalam syairnya saat membuka kembali perguruan tinggi pada 17 Desember 1945 setelah Jepang bertekuk lutut, ia menggubah syair, Wahai bendera kebangsaan berkibarlah di angkasa, Di atas bumi di gunung nan hijau, Setiap bangsa punya lambang kemuliaan, Dan lambang kemuliaan kita adalah merah putih.

Pertama kali datang ke Indonesia, beliau datang dan menetap di Pekalongan. Di daerah inilah beliau menikah dengan Syarifah Aminah binti Thalib Al-Jufri.

Buah hasil pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua putri, Syarifah Lulu’ dan Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu’ kemudian menikah dengan Sayyid Segaf bin Syekh AI-Jufri, yang salah seorang anaknya adalah Dr. H. Salim Segaf Al-Jufri, Menteri Sosial Indonesia ke-26 dan Duta Besar RI untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kesultanan Oman Periode 2005-2009.

Baca Juga :  Tuai Polemik, Inilah 5 Pasal Potensi Ancam Kebebasan Pers

Mengabdi Sebagai Guru

Setelah beberapa lama menetap di Pekalongan, Habib Idrus pergi bermukim di Solo, dengan niat untuk mendirikan madrasah yang diberi nama “Perguruan Arrabithah Alawiyah”.

Disamping itu juga, beliau mengabdi sebagai Guru dan Kepala Sekolah di Madrasah Rabithah Al-Alawiyyah.

Pada tahun 1926, setelah menetap beberapa lama di Solo, akhirnya beliau pindah ke kota Jombang. Di Jombang beliau pergi menemui beberapa tokoh islam di sana, salah satunya adalah K.H. Hasyim Asy’ari.

Jombang merupakan persinggahan terakhir Habib Idrus di pulau Jawa, setelahnya beliau memulai perjalanannya ke bagian Timur Indonesia untuk memberi petunjuk dan berdakwah di jalan Allah.(*)

 

*Baca selengkapnya di Sini

** Baca berita pilihan menarik lainnya langsung di ponselmu di Channel WhatsApp Republish.id. Klik disini