36 Kasus HIV/AIDS Ditemukan di Boltara, ASN hingga Pekerja Seks Masuk Daftar Penderita

Foto Ilustrasi AI.

Republish.id, BOLTARA – Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) mencatat sebanyak 36 kasus Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) ditemukan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Data tersebut menunjukkan bahwa kasus masih menjadi tantangan serius bagi sektor kesehatan di daerah.

Dari total kasus tersebut, sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) tercatat masuk dalam kelompok penderita bersama warga yang bekerja di luar daerah serta kelompok pekerja seks.

Baca Juga :  KNPI Boltara Tolak Keras DOB P-BMR, Donal Palandi: Sulut Jangan Dipecah, Gorontalo Jadi Opsi

Kepala Dinas Kesehatan Boltara, Sofian Mokoginta, SKM, mengatakan dari 36 kasus yang tercatat, tiga orang telah meninggal dunia. Dengan demikian, saat ini masih terdapat 33 penderita yang menjalani pemantauan dan pengobatan.

“Dalam lima tahun ini kasus HIV/AIDS di Bolmut sebanyak 36 orang,” kata Sofian, Rabu (8/7/2026).

Menurut Sofian, sebagian besar kasus ditemukan pada warga Boltara yang bekerja di luar daerah dan kemudian kembali ke kampung halaman. Selain itu, terdapat pula lebih dari satu kasus yang ditemukan pada ASN serta pekerja seks.

Baca Juga :  Pj Bupati Bolmut Kukuhkan Perpanjangan Masa Jabatan BPD

Data Dinas Kesehatan Boltara menunjukkan penyebaran kasus HIV/AIDS terjadi di enam kecamatan. Kecamatan Bolangitang Timur menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 13 orang.

Selanjutnya, Kecamatan Bintauna mencatat tujuh kasus, Bolangitang Barat lima kasus, Pinogaluman empat kasus, Kaidipang tiga kasus, dan Sangkub satu kasus.

Berdasarkan jenis kelamin, penderita laki-laki mendominasi dengan 23 orang, sedangkan perempuan tercatat sebanyak 10 orang.

Baca Juga :  Literasi Jadi Senjata Daerah, Bupati Boltara: Bukan Sekadar Seremoni

Sofian menilai tingginya mobilitas penduduk serta perilaku berisiko masih menjadi tantangan dalam upaya pengendalian HIV/AIDS di Boltara.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan reproduksi, menghindari perilaku berisiko, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala agar penyakit dapat dideteksi sejak dini.

“Pemeriksaan kesehatan rutin penting dilakukan agar penanganan bisa lebih cepat dan risiko penularan dapat ditekan,” pungkas Sofian.(*)

"Mantan Wartawan media cetak Harian Gorontalo Pos ini memulai karir di dunia Jurnalisme tahun 2018. Masih aktif menulis di media online Republish.id hingga saat ini."