Gempa Flores M 7,7, Nelayan Ngada Alami Luka Parah hingga Kehilangan Rumah

KORBAN GEMPA FLORES - Saban, salah satu korban di Damu, Desa Sambinasi Kecamatan Riung alami patah tulang akibat gempa yang terjadi pada, Sabtu 15 Agustus 2026, (Foto Tribunnews).

Republish.id, NASIONAL – Gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) dini hari lalu menyebabkan ratusan orang luka-luka dan puluhan meninggal dunia, termasuk Saban, nelayan asal Desa Sambinasi, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, yang mengalami patah kaki setelah tertimpa tembok rumahnya.

Saban harus menjalani perawatan di Puskesmas Riung akibat luka berat tersebut. Ia mengaku kesulitan menyelamatkan diri ketika gempa mengguncang rumahnya dengan sangat keras.

Baca Juga :  Diduga Ada Praktik Mafia Tanah di Pamusian: Warga Mengaku Diintimidasi, Legalisasi Sertifikat Ditahan Oknum Kelurahan

“Nah begitu kan begini terus saya mau maju setengah mati mulu setengah mati goyang tu rumah goyang dengan lantai itu lantai rumah,” ujarnya sambil mempraktikkan kondisi tubuhnya yang terhuyung dan kesulitan bergerak akibat guncangan gempa.

Dalam tayangan Saksi Kata di YouTube Tribun Flores, Saban menceritakan bahwa dirinya hampir berhasil keluar dari rumah ketika kaki kirinya masih berada di bagian pintu.

Baca Juga :  Indonesia Resmi Bergabung dengan BRICS, ASEAN Perkuat Kerja Sama Ekonomi Global

Saat itu, tembok rumah tiba-tiba ambruk dan menimpa kaki kirinya hingga mengalami patah tulang.

“Jadi saya setengah mati ah begitu saya mau keluar kaki ini sudah di luar ini masih dalam jatuh lagi tembok dari jatuh, sehingga dapat situ patah kena ya kaki ini kena tembok patah itu,” kata Saban sambil menahan rasa sakit.

Dalam kondisi terluka, Saban kemudian dibopong oleh istrinya dari dalam rumah menuju jalan raya untuk menyelamatkan diri.

Baca Juga :  Polisi Bubarkan Sabung Ayam di Desa Biontong 1

Bencana tersebut tidak hanya menyebabkan Saban mengalami luka berat, tetapi juga membuatnya kehilangan tempat tinggal. Rumah miliknya roboh setelah diguncang gempa yang terjadi pada Sabtu pagi.

“Saya rasa dia (rumahnya) hancur,” singkat Saban.

Kini, Saban masih bertahan di tempat pengungsian sambil menunggu bantuan. Ia berharap pemerintah dapat memberikan tempat tinggal bagi dirinya dan keluarganya.

Redaksi Republish.id