Produksi Padi Boltara Tembus 43.899 Ton di 2025, Masalah Irigasi Masih Jadi Tantangan Serius

Bupati dan Wakil Bupati Boltara saat melakukan panen padi, (Sumber Foto Dok: Humas - Kolase Foto By Republish.id)

Republish.id, BOLTARA – Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) mencatat capaian produksi padi yang cukup signifikan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Boltara, total produksi padi mencapai 43.899 ton dengan luas lahan panen 6.001 hektare (Ha).

Meski demikian, persoalan irigasi dan sarana pendukung pertanian masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius.

Kecamatan Bintauna menjadi wilayah dengan produksi padi tertinggi, yakni mencapai 11.137 ton dari luas lahan 2.123 Ha. Posisi kedua ditempati Kecamatan Bolangitang Barat dengan produksi 8.271 ton dari lahan seluas 848 Ha.

Di urutan ketiga, Kecamatan Sangkub mencatat produksi sebesar 7.725 ton dengan luas lahan 913 Ha. Sementara Kecamatan Kaidipang menghasilkan 7.321 ton dari 799 Ha lahan persawahan. Adapun Kecamatan Pinogaluman mencatat produksi 5.729 ton dari 1.011 Ha, dan Bolangitang Timur menghasilkan 3.716 ton dari lahan seluas 307 Ha.

Baca Juga :  Krisis di RSUD Bolmut: Gaji Tertunda, Tenaga Medis Siap Mogok

Di sisi lain, persoalan irigasi persawahan mengemuka dalam rapat kerja di Kecamatan Sangkub yang turut dihadiri Bupati Boltara, Sirajudin Lasena. Isu pengairan menjadi salah satu keluhan utama petani dan menjadi bahan diskusi bersama pemerintah daerah.

Sebelumnya, Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluh Dinas Pertanian Kabupaten Boltara, Syarifuddin, mengungkapkan bahwa beragam persoalan masih dihadapi petani, terutama terkait peningkatan produksi hasil pertanian. Ia mencontohkan produksi padi di Boltara yang dinilai masih memiliki ruang untuk terus ditingkatkan.

“Kesejahteraan petani padi tentu salah satunya kita berbicara soal produksi pertanian. Dan kaitannya dengan benih,” ujarnya.

Terkait benih, pemerintah daerah telah menjalin kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Dari hasil uji coba, benih IPB terbukti mampu meningkatkan produksi padi secara signifikan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, swasta, dan petani dinilai sangat penting ke depan.

Baca Juga :  68 Pejabat Resmi Dilantik! Ini Pesan Tegas Bupati Boltara untuk Gerak Cepat dan Adaptif

Selain benih, persoalan pupuk juga menjadi perhatian. Syarifuddin menambahkan bahwa pengairan merupakan tantangan utama lain yang dihadapi petani. Di samping itu, keberadaan lembaga atau kelompok tani juga perlu mendapat perhatian agar dapat berfungsi secara optimal.

Berdasarkan data dalam roadmap percepatan pembangunan pertanian Kabupaten Boltara tahun 2025–2045 yang disusun Pemerintah Kabupaten Boltara bekerja sama dengan IPB, penggunaan lahan sawah di Boltara hingga tahun 2023 tercatat seluas 4.394,09 Ha. Luasan tersebut terdiri atas lahan sawah irigasi, sawah tadah hujan, serta sawah rawa pasang surut.

Sawah irigasi memiliki porsi terbesar, yakni sekitar 74 persen atau kurang lebih 3.343,34 Ha. Luas sawah irigasi terluas berada di Kecamatan Sangkub dengan 982,31 Ha.

Sementara itu, sawah tadah hujan mencapai sekitar 20 persen atau kurang lebih 920 Ha dan tersebar merata di enam kecamatan, dengan luasan terbesar juga berada di Kecamatan Sangkub.

Baca Juga :  BREAKING NEWS: Honorer RSUD Bolmut Ancam Mogok Kerja, Layanan Rumah Sakit Terancam Lumpuh

Dengan kondisi tersebut, peningkatan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan, dinilai sangat bergantung pada peningkatan pengelolaan pengairan, terutama pada lahan yang masih bergantung pada curah hujan.

Saat ini, luas lahan sawah di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang memiliki irigasi teknis tercatat 2.498,96 Ha. Dari luasan tersebut, sekitar 372,21 Ha memiliki kualitas irigasi yang buruk, sementara sisanya seluas 2.216,75 Ha berada dalam kondisi baik.

Adapun sawah dengan irigasi nonteknis seluas 995,85 Ha, terdiri dari 296,83 Ha berkualitas buruk dan 699,02 Ha berkualitas baik. Selain itu, masih terdapat sekitar 980,38 Ha sawah yang belum memiliki sistem irigasi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur irigasi masih menjadi kunci utama untuk menjaga sekaligus meningkatkan produksi padi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) ke depan.