30 Tahun Mapala-STA IAIN Sultan Amai: Dari Petualangan ke Gerakan Etika Ekologis Lintas Iman

Sekretariat Mapala-STA IAIN Sultan Amai Gorontalo, Kampus 1, (Foto Istimewa)

Oleh : Rahmat Djaba / Dinosaurus

Kader Mapala-STA 1995

Republish.id, GORONTALO – Tiga dekade perjalanan Mahasiswa Pecinta Alam Sultan Amai (Mapala-STA) Gorontalo menjadi momentum reflektif yang menandai perubahan besar: dari sekadar komunitas petualang menjadi laboratorium etika ekologis yang berlandaskan ilmu, iman, dan tanggung jawab terhadap bumi.

Dalam tulisan reflektif bertajuk “Menuju Terbangunnya Nilai Hakiki Pelestari Bumi”, Rahmat Djaba – Dinosaurus—Senior Mapala-STA sekaligus Ketua NGO Tomini Initiative Indonesia menegaskan bahwa usia 30 tahun bukan sekadar hitungan waktu, tetapi perjalanan nilai dan kesadaran ekologis.

Mapala-STA lahir bukan hanya dari semangat petualangan, tetapi juga dari rahim kesadaran ekologis dan tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan kehidupan alam dan isinya.

Dari Antroposentrisme Menuju Ekosentrisme

Mapala-STA menyerukan perubahan paradigma dari pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa alam menuju ekosentrisme, di mana alam dan seluruh komponennya memiliki nilai intrinsik yang harus dihormati.

Baca Juga :  Curat Berkedok Satgas? Raibnya Timah di Smelter Sitaan Negara Uji Nyali Negara Menegakkan Hukum

Dalam refleksi itu, Rahmat Djaba menyebut tiga nilai hakiki yang mesti dihidupkan dalam setiap gerakan pecinta alam, yaitu kesadaran ilmiah dan kritis, kesadaran sosial dan humanistik, serta kesadaran spiritual lintas iman.

Laporan IPCC (2023) juga disorot sebagai bukti bahwa krisis iklim adalah hasil perilaku manusia yang tidak berkelanjutan.

“Perjuangan ekologis tak bisa dilepaskan dari perjuangan keadilan sosial,” tegasnya, seraya mengutip ensiklik Octogesima Adveniens (Paulus VI, 1971) yang menyebut bahwa ketidakadilan terhadap manusia adalah ketidakadilan terhadap ciptaan.

Mapala-STA Sebagai Agen Perubahan Ekologis

Dalam bagian refleksi “30 Tahun Gerakan Mapala-STA”, disebutkan bahwa kini saatnya Mapala-STA bertransformasi menjadi agen perubahan ekologis di kampus dan masyarakat.

Baca Juga :  KEK di Madura: Harapan Ekonomi atau Sekadar Ilusi Pembangunan?

Kegiatan lapangan seperti pendakian, ekspedisi, dan penelitian harus melahirkan data konservasi, riset biodiversitas, serta kegiatan sosial yang menumbuhkan kemandirian ekologis masyarakat sekitar.

Mapala-STA juga menekankan pentingnya menjadikan kampus dan sekolah sebagai laboratorium ekologi mikro yang tidak hanya hijau secara fisik, tetapi juga Islami dan ilmiah, dengan penerapan sistem berkelanjutan yang selaras dengan ekosistem.

Penanaman multi-purpose tree species (MPTS) disebut sebagai langkah konkret yang memberi manfaat ekologis dan sosial, termasuk menjaga tanah dan air, menghasilkan buah, sayur, serta obat-obatan alami.

Pelestari Bumi Lintas Iman

Menariknya, refleksi ini juga mengangkat dimensi spiritual lintas agama sebagai dasar etika ekologis.

Al-Qur’an, Kitab Kejadian, Bhagavad Gita, dan Metta Sutta sama-sama menyerukan nilai kesucian alam dan tanggung jawab manusia untuk menjaganya.

Baca Juga :  Insiden Doorstop Jambi: Humas Seharusnya Jadi Mitra, Bukan Penghalang

“Kerusakan alam adalah akibat hilangnya kesadaran sakral terhadap alam,” tulisnya, mengutip pemikiran Seyyed Hossein Nasr (1996) dalam Religion and the Order of Nature.

Penutup: Dari Refleksi ke Aksi

Rahmat menutup refleksinya dengan seruan agar 30 tahun Mapala-STA menjadi titik balik bagi generasi muda pecinta alam untuk bertindak, bukan sekadar berkata.

“Sesungguhnya dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya. Maka Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat,” (HR. Muslim).

Momentum 30 tahun ini, katanya, harus menjadi panggilan untuk mengembalikan nilai kesakralan alam melalui ilmu, iman, dan tindakan nyata agar Mapala-STA tetap menjadi obor nilai, penjaga bumi, dan pewaris etika ekologis lintas generasi.

Redaksi Republish.id