Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Ungkap Strategi Indonesia Capai Swasembada Energi

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.(Foto : CNN Indonesia)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.(Foto : CNN Indonesia)

Republidh.id, NASIONAL – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan langkah-langkah yang dapat membawa Indonesia menuju swasembada energi, sesuai dengan visi yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Salah satu kunci utama dalam mencapai tujuan tersebut adalah meningkatkan produksi minyak dalam negeri, dengan cara mengoptimalkan sumur-sumur yang tidak produktif melalui penerapan teknologi canggih.

“Kita tidak bisa membicarakan kedaulatan energi tanpa peningkatan lifting. Lifting merupakan salah satu langkah penting,” ujar Bahlil pada Jumat (20/12).

Bahlil menjelaskan bahwa pada masa lalu, produksi minyak Indonesia sempat mencapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan konsumsi domestik hanya sekitar 600 ribu hingga 700 ribu barel per hari, yang menghasilkan surplus sekitar 900 ribu hingga 1 juta barel.

Baca Juga :  DPC PJS Belitung Dilantik, Siap Perkuat Jurnalisme Profesional

Namun, situasi kini telah berubah drastis. Konsumsi minyak Indonesia telah meningkat menjadi 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari.

Menurut Bahlil, dari total 44 ribu sumur di Indonesia, sekitar 16 ribu sumur tidak aktif, dengan tujuh ribu sumur di antaranya masih memiliki potensi untuk diproduksi kembali.

Bahlil menekankan pentingnya intervensi teknologi untuk mengoptimalkan potensi sumur-sumur tua ini.

Baca Juga :  Pembangunan Resort Gunung Kidul: Warga dan Tokoh Gunung Kidul Nilai Badko HMI dan Pihak Lainnya Numpang Viral Mengkritik

“Strategi pertama adalah mengoptimalkan sumur-sumur yang sudah ada. Sumur-sumur tua masih bisa diolah dengan teknologi canggih,” tuturnya.

Selain peningkatan lifting, Bahlil juga menyoroti upaya Indonesia untuk mempercepat konversi bahan bakar dengan menggunakan kelapa sawit atau biodiesel, dari B30 menjadi B40, B60, hingga B100.

“Pada 1 Januari 2025, kita akan mulai menggunakan B40, dan pada 2026, B50. Dengan B50, kita tidak perlu lagi mengimpor solar,” tambahnya.

Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa pendekatan ini menggabungkan dua metode: meningkatkan lifting fosil dan melakukan eksplorasi masif, serta mempercepat konversi ke biodiesel, mengingat Indonesia memiliki potensi CPO (crude palm oil) yang besar.

Baca Juga :  Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Segera Dinonaktifkan, Pemerintah Siapkan Aturan Baru

Namun, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai bahwa swasembada energi masih merupakan tantangan besar bagi Indonesia. Pasalnya, sebagian besar kebutuhan energi, seperti minyak dan gas, masih bergantung pada impor.

“Untuk LPG saja, konsumsi kita mencapai 9 juta metrik ton per tahun, sementara kapasitas produksi kita hanya sekitar 1,8 hingga 2 juta MT, artinya kita harus mengimpor sekitar 7 juta MT,” ujarnya.

Komaidi menambahkan, dengan hampir 70 persen kebutuhan energi yang bergantung pada impor, perjalanan menuju swasembada energi bukanlah hal yang mudah untuk dicapai.(*)

"Mantan Wartawan media cetak Harian Gorontalo Pos ini memulai karir di dunia Jurnalisme tahun 2018. Masih aktif menulis di media online Republish.id hingga saat ini."