IMO Desak Kapal Komersial Hindari Selat Hormuz, Serangan Kian Meningkat

Kapal-kapal berlayar di lepas pantai Khor Fakkan, Uni Emirat Arab, dekat Selat Hormuz pada 13 Juli 2026.(Doc. AFP)

Republish.id, INTERNASIONAL – Organisasi Maritim Internasional (IMO) mendesak kapal-kapal komersial untuk menghindari pelayaran melalui Selat Hormuz dan perairan sekitarnya menyusul meningkatnya serangan di tengah konflik Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Imbauan tersebut dikeluarkan karena kondisi keamanan di jalur pelayaran strategis itu semakin memburuk dan mengancam keselamatan awak kapal.

Peringatan tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, dalam wawancara dengan kantor berita Xinhua di markas besar IMO, London, pada Jumat (16/10/2026).

Dalam keterangan resminya, Dominguez menegaskan bahwa kapal-kapal komersial belum dapat kembali beroperasi dengan aman sebelum akar penyebab konflik diselesaikan oleh pihak-pihak yang bertikai.

Baca Juga :  Ketegangan Memanas, Iran Tegaskan Kendali Ketat Selat Hormuz di Tengah Konflik dengan AS

Ia mengungkapkan, lebih dari 110 kapal telah menjadi sasaran serangan sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari 2026. Dalam periode yang sama, sedikitnya 24 pelaut dilaporkan telah dipastikan tewas.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak terhadap keamanan negara-negara yang terlibat, tetapi juga mengancam keselamatan awak kapal sipil serta kelancaran perdagangan internasional.

Data yang dipublikasikan IMO memperlihatkan peningkatan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya. Pada periode 5 hingga 11 Oktober 2026, tercatat 12 serangan terhadap kapal di kawasan tersebut. Angka itu menjadi jumlah serangan mingguan tertinggi sejak konflik dimulai.

Baca Juga :  Dunia di Ambang Krisis: 5 Dampak Perang Israel-Iran terhadap Ekonomi Global

Situasi semakin memburuk pada 11 Oktober 2026, ketika enam kapal dilaporkan mengalami serangan dalam satu hari.

Dominguez juga menyoroti dua insiden terbaru yang menggambarkan tingginya risiko pelayaran di kawasan tersebut. Dalam beberapa hari menjelang wawancara, dua kapal dilaporkan terkena serangan. Salah satu kapal hancur total, sementara kapal lainnya masih berupaya mencapai dermaga agar awaknya bisa mendapatkan bantuan.

Baca Juga :  Wartawan Babel Jadi Tersangka, Ahli Pers Dewan Pers Ungkap 7 Kesalahan Serius Aparat: “Ini Bisa Bungkam Demokrasi”

Serangkaian insiden tersebut semakin memperkuat kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu jalur perdagangan maritim paling penting di dunia.

IMO pun menyayangkan masih adanya pemilik dan operator kapal yang mengambil risiko dengan tetap berlayar di wilayah berbahaya, meskipun ancaman serangan terus meningkat.

Menurut Dominguez, keputusan untuk tetap beroperasi di kawasan konflik bukan hanya mempertaruhkan keselamatan kapal dan muatan, melainkan juga nyawa para pelaut yang bertugas di dalamnya.

Redaksi Republish.id