Republish.id, BITUNG — Persoalan yang melibatkan Bendahara Komite SMK Negeri 2 Bitung Fonny Tumiwa semakin melebar. Setelah pengelolaan dana komite dipertanyakan, kini muncul adanya laporan mengenai keberadaan sejumlah aset dan peralatan Teaching Factory (TeFa) jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR).
Dari informasi yang diperoleh, ada laporan tertanggal 14 September 2026, sebanyak 13 barang dan peralatan sekolah disebut telah dibawa pulang oleh Fonny Tumiwa yang merupakan Bendahara Komite saat ini.
Laporan tersebut tertulis dibuat oleh Deddy Sukadi S.Pd, guru kejuruan TKR yang disebut bertanggung jawab sebagai pengelola Bengkel Teaching Factory Jurusan TKR SMK Negeri 2 Bitung.
Dalam laporan itu disebutkan barang-barang tersebut sebelumnya berada di Teaching Factory maupun Jurusan TKR dan dalam kondisi baik ketika diambil.
Sejumlah barang bahkan disebut telah dibawa sejak 2021.
Daftar tersebut antara lain genset Yamaha, printer Epson L455, laptop Asus warna merah, filling kabinet, dongkrak 10 ton Tekiro, kabel rol Kenmaster 50 meter, mesin las Rilon, mesin gerinda tangan, kacamata las, palu, LCD proyektor, alat scanner mobil, serta tool box lengkap.
Laporan tersebut mencatat tahun pengambilan masing-masing barang mulai 2021 hingga 2025.
Khusus genset Yamaha, dalam laporan disebut barang tersebut diambil pada 2021 dan kemudian ditukar dengan genset lain yang dalam kondisi rusak.
Sementara sejumlah barang lain disebut dibawa pulang dan hingga laporan dibuat keberadaannya masih dipertanyakan.
Dalam laporan itu, Deddy meminta agar keberadaan barang-barang tersebut diklarifikasi.
Ia juga meminta peralatan yang disebut masih diperlukan untuk proses pembelajaran dikembalikan ke sekolah.
“Barang dan peralatan tersebut masih dalam keadaan baik pada waktu diambil dan masih ada peralatan kecil lainnya yang diambil. Untuk itu perlunya dikonfirmasi dan ditanyakan keberadaan barang tersebut,” demikian isi laporan tersebut.
Pelapor juga menyampaikan harapan agar barang dan peralatan yang diambil dapat dikembalikan karena masih dibutuhkan untuk menunjang proses pembelajaran di sekolah.
Ihwalnya, persoalan aset sekolah tersebut mencuat ketika nama Fonny Tumiwa sebelumnya juga muncul dalam polemik pengelolaan dana Komite SMK Negeri 2 Bitung.
Sebelumnya Kepala SMK Negeri 2 Bitung, Meryati Taengetan, sebelumnya mengakui belum menerima laporan keuangan dari Bendahara Komite selama hampir satu tahun namun Bendahara Komite tak kunjung memberikan laporan itu.
Meryati juga mengatakan, dana komite sendiri digunakan salah satunya untuk membiayai gaji guru honorer.
Namun saat dikonfirmasi Senin (21/9/2026), Meryati menyampaikan jika Bendahara Komite Fonny Tumiwa sudah memberikan laporan dana komite itu.
“Laporannya sudah diberikan ke saya,” kata Meryati saat dikonfirmasi.
Selain itu, muncul informasi mengenai dana kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang melibatkan sekitar 400 siswa. Setiap siswa disebut diminta Rp300 ribu untuk kegiatan selama tiga bulan.
Jika seluruh siswa membayar sesuai nominal tersebut, nilainya mencapai sekitar Rp120 juta.
Namun, informasi yang diterima menyebut kegiatan PKL telah berlangsung sekitar tujuh kali pada 2026, sementara pembayaran disebut baru dilakukan dua kali.
Sejumlah orang tua siswa sebelumnya telah mendesak aparat penegak hukum (APH) memeriksa pengelolaan dana komite.
“Untuk mengetahui pasti dan memastikan dana komite itu tidak diselewengkan atau dipakai untuk kepentingan pribadi. Atau dikorupsi,” ujar salah satu orang tua siswa.
Menurutnya, jika pemeriksaan dilakukan, APH juga dapat menelusuri apakah terdapat persoalan lain dalam pengelolaan aset sekolah.
“Kalau memang barang sekolah dibawa pulang, harus jelas siapa yang memberikan izin, untuk apa dibawa, di mana sekarang barangnya, dan apakah masih ada. Jangan sampai aset sekolah tidak jelas keberadaannya,” katanya.
Sementara itu, sebelum menjadi Bendahara Komite, Fonnydise Utara pernah menjabat sebagai Kepala Jurusan Teaching Factory (TeFa) SMK Negeri 2 Bitung.
Saat dikonfirmasi perihal keberadaan aset dan peralatan Teaching Factory (TeFa) jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) yang dilaporkan dibawa pulang ke rumah nya. Ia menjawab singkat.
“Barangnya ada,” singkat Fonny saat dikonfirmasi.
Saat ditanya dimana barang-barang yang dalam laporan disebut dibawa pulang dan bahkan di tukar dengan barang yang rusak. Ia menepis informasi itu.
“Itu barang ada di sekolah. Dengan itu bukan ditukar. Waktu ada bawa ke sekolah mau di perbaiki. Tapi teman satu bawa pulang. Tapi barangnya ada,” aku Fonny, Selasa (22/9/2026).
Sementara itu, Kepala SMK Negeri 2 Bitung, Meryati Taengetan saat dikonfirmasi terkait laporan aset-aset sekolah itu. Ia menjawab masih akan mengecek.
“Nanti saya akan cek dulu,” katanya.











Leave a Reply
View Comments