Republish.id, INTERNASIONAL – Australia kembali diguncang tragedi teror paling mematikan dalam hampir tiga dekade terakhir. Penembakan massal yang terjadi di Pantai Bondi, Sydney, saat perayaan Festival Hanukkah, menewaskan sedikitnya 15 orang, termasuk seorang anak perempuan berusia 10 tahun. Polisi mengonfirmasi pelaku merupakan ayah dan anak yang diketahui menyatakan kesetiaan kepada kelompok Negara Islam atau ISIS.
Media lokal mengidentifikasi kedua pelaku sebagai Sajid Akram (50) dan putranya, Naveed Akram (24). Kepolisian sebelumnya telah memastikan bahwa penembakan dilakukan oleh dua orang yang memiliki hubungan keluarga.
Pelaku yang lebih tua tewas di lokasi kejadian setelah ditembak polisi, sementara putranya saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit dalam kondisi kritis.
Polisi dan otoritas keamanan Australia menyatakan kedua pelaku telah menyatakan kesetiaan kepada kelompok teroris ISIS. Serangan tersebut kini resmi diklasifikasikan sebagai aksi terorisme.
Profil dan Latar Belakang Pelaku
Sajid Akram diketahui tiba di Australia pada 1998 menggunakan visa pelajar. Visa tersebut kemudian dialihkan menjadi visa pasangan pada 2001 dan berlanjut hingga ia memperoleh status penduduk tetap. Ia tercatat memiliki izin kepemilikan senjata api untuk keperluan berburu dan merupakan anggota sebuah klub senjata.
Putranya, Naveed Akram, warga negara Australia kelahiran Sydney, pernah menarik perhatian aparat keamanan pada Oktober 2019. Namun, Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa saat itu, “penilaian telah dilakukan bahwa tidak ada indikasi ancaman berkelanjutan atau ancaman dirinya untuk terlibat dalam kekerasan.”
Stasiun penyiaran ABC melaporkan Naveed diperiksa karena memiliki hubungan dekat dengan sel teroris ISIS yang berbasis di Sydney. Laporan yang sama menyebutkan bahwa aparat antiterorisme meyakini kedua pelaku menyatakan kesetiaan kepada ISIS sebelum melakukan serangan.
Polisi menduga persiapan serangan dilakukan di sebuah properti sewaan jangka pendek di Campsie, sekitar 30 menit berkendara dari Pantai Bondi. Bangunan satu lantai berwarna abu-abu di kawasan tersebut menjadi salah satu fokus utama penyelidikan.
Rumah keluarga pelaku di Bonnyrigg, wilayah barat daya Sydney, juga telah digeledah. Seorang mantan tetangga keluarga itu mengatakan, “Saya pikir, ya, ampun, tidak mungkin itu mereka.” mengutip BBC News Indonesia.
Kronologi Penembakan
Sekitar pukul 18.47 waktu setempat, Kepolisian New South Wales menerima laporan adanya penembakan di Archer Park, Pantai Bondi. Polisi segera mengeluarkan peringatan darurat dan meminta warga berlindung serta menjauhi lokasi.
Video terverifikasi memperlihatkan ratusan orang berlarian meninggalkan pantai saat suara tembakan terdengar. Rekaman lain menunjukkan dua pelaku melepaskan tembakan dari sebuah jembatan kecil yang menghubungkan area parkir di Campbell Parade ke pantai.
Salah satu saksi mata, Ahmed al Ahmed, pemilik toko buah dan ayah dua anak, terlihat dalam video berusaha melumpuhkan salah satu pelaku. Ia berhasil merebut senjata pelaku sebelum akhirnya ditembak di lengan dan tangannya.
Keluarga Ahmed mengatakan kepada 7News Australia bahwa ia masih menjalani perawatan pascaoperasi. Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, menyebut Ahmed sebagai “pahlawan sejati.”
“Saya tidak ragu bahwa banyak sekali orang yang selamat malam ini berkat keberaniannya,” kata Minns.
Korban dan Dampak
Kepolisian New South Wales menyebut korban tewas berusia antara 10 hingga 87 tahun. Salah satu korban adalah Rabbi Eli Schlanger (41), kelahiran Inggris. Sepupunya, Rabbi Zalman Lewis, menggambarkannya sebagai sosok yang “ceria, energik, penuh semangat, dan sangat mencintai orang lain.”
Seorang penyintas Holocaust, Alex Kleytman, juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Selain itu, seorang anak perempuan berusia 10 tahun bernama Matilda turut menjadi korban, atas permintaan keluarga.
Korban lain termasuk Peter Meagher, mantan polisi dan relawan klub rugby setempat yang bertugas sebagai fotografer acara Hanukkah.
Media Israel melaporkan satu warga negaranya turut tewas. Warga negara Prancis, Dan Elkayam, juga dikonfirmasi sebagai korban. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menyampaikan belasungkawa mendalam melalui platform X.
Menteri Kesehatan New South Wales, Ryan Park, mengatakan sejumlah korban mengalami luka kritis dan serius, sementara empat anak telah dipindahkan ke Rumah Sakit Anak Sydney. Dua petugas polisi juga tertembak dan dilaporkan dalam kondisi mendekati kritis.
Izin Senjata dan Penyelidikan Lanjutan
Komisaris Polisi New South Wales, Mal Lanyon, mengungkapkan pelaku berusia 50 tahun mengantongi lisensi senjata kategori AB yang memberinya hak memiliki senjata laras panjang.
“Terkait izin kepemilikan senjata api, registri senjata api melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh permohonan untuk memastikan seseorang layak dan patut memegang izin senjata api,” ujar Lanyon.
Polisi menemukan alat peledak improvisasi (IED) di dalam kendaraan yang terkait dengan salah satu pelaku. Area sekitar lokasi kejadian masih ditutup untuk kepentingan penyelidikan.
Reaksi Internasional
Dalam pidato nasional, PM Anthony Albanese menyebut serangan itu sebagai “tindakan kejahatan murni” dan “tindakan antisemitisme yang jahat.”
Presiden Israel Isaac Herzog menyebut insiden tersebut sebagai “serangan yang sangat kejam terhadap orang Yahudi.” Raja Charles III juga menyatakan dirinya “terkejut dan sangat sedih atas serangan teroris antisemitisme yang paling mengerikan.”
Penembakan di Bondi menjadi insiden paling mematikan di Australia sejak tragedi Port Arthur 1996 yang menewaskan 35 orang.











Leave a Reply
View Comments