Transisi El Nino ke Musim Hujan, Warga Bitung Diminta Waspada Longsor dan Banjir

RGK saat turlap bersama pemerintah kelurahan mengecek langsung drainase yang dikeluhkan warga beberapa waktu lalu. Foto: ist

REPUBLISH.ID, ​BITUNG — Peralihan iklim dari kemarau panjang akibat El Nino menuju musim hujan memicu kekhawatiran di berbagai daerah, termasuk Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut,).

Warga pun diimbau agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.

​Wakil Ketua DPRD Kota Bitung, Ronald Gunawan Kansil (RGK), mengingatkan bahwa kondisi tanah yang sempat mengalami kekeringan ekstrem selama fase El Nino kini menjadi jauh lebih rentan terhadap pergerakan tanah, erosi, serta luapan air akibat menurunnya kapasitas resapan.

Baca Juga :  Drama Pelantikan 48 Pejabat Bitung, Dibelakang Layar Randito Maringka Kena Prank dan Dicampakkan

​”Transisi dari kemarau panjang ke musim hujan  ini sangat berbahaya. Struktur tanah kita sedang rapuh-rapuhnya, sehingga potensi bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir di titik-titik rawan Kota Bitung perlu diwaspadai,” ujar RGK, Minggu (11/1/2026).

​
​Menghadapi ancaman cuaca ekstrem ini, politisi Gerindra ini juga mendorong pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama aparat kelurahan untuk memperketat pemantauan di sejumlah wilayah krusial.

Ia juga berharap ada perhatian khusus di sejumlah wilayah yang dianggap prioritas. Seperti di wilayah ​lereng dan perbukitan (rawan longsor, red) dengan kontur tanah curam, di beberapa titik Kecamatan Aertembaga, Madidir, dan Girian, yang rentan mengalami banjir dan longsor.

Baca Juga :  Pelaku Usaha Eks Kanopi Tagih Janji Wali Kota Hengky Honandar, Ruko Rp 1.2 Miliar Tak Kunjung Ditempati

“Selain itu, warga yang bermukim di sepanjang bantaran aliran sungai harus waspada jika curah hujan tinggi. Sebab berisiko mengalami luapan cepat ketika debit air meningkat secara drastis. Kemudian, di kawasan perkotaan dan titik-titik dataran rendah atau kawasan padat aktivitas ekonomi dengan kapasitas drainase yang memerlukan normalisasi berkala guna mencegah terjadinya banjir,” pintanya.

Baca Juga :  Gejolak NasDem Bitung Memanas, Bongkar Dosa Oknum Anggota DPRD yang Gulingkan Nori Supit!

RGK juga menegaskan bahwa upaya mitigasi tidak boleh bersifat reaktif semata, melainkan harus dilakukan secara terencana, berkelanjutan, dan melibatkan koordinasi lintas instansi agar respons darurat dapat berjalan cepat.

​”Kami juga mengajak seluruh masyarakat Bitung untuk membangun kesadaran dalam menjaga lingkungan sekitar. Langkah-langkah sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air dan merawat kawasan penyangga hijau menjadi kunci penting dalam menekan risiko bencana. Mari bersama-sama mengantisipasi potensi bencana demi keselamatan bersama di Kota Bitung,” pungkasnya.

Wartawan Republish.id Biro Kota Bitung