Republish.id, NASIONAL – Presiden Prabowo Subianto mendorong masyarakat Indonesia kembali menggunakan atap berbahan alami seperti ijuk dan rumbia sebagai alternatif material seng dan asbes yang dinilai memiliki risiko kesehatan. Namun, penggunaan kedua jenis atap tradisional tersebut dinilai memiliki sejumlah kelemahan jika diterapkan pada rumah modern.
Berdasarkan jurnal Penggunaan Ijuk Sebagai Material Atap Alami karya Ida Bagus Andyka Prasetya Putrasusila, atap ijuk merupakan penutup rumah tradisional yang menggunakan serat hitam dari pohon aren (Arenga pinnata).
Serat ijuk dipilih karena memiliki daya tahan tinggi. Serat tersebut kuat, agak kaku tetapi tetap lentur, tidak mudah putus maupun rapuh, serta tahan terhadap kelembapan. Karakteristik itu membuat atap ijuk cukup awet, tahan terhadap cuaca, dan sesuai digunakan sebagai penutup bangunan.
Sementara itu, berdasarkan jurnal Pemberdayaan Atap dari Rumbia untuk Peningkatan Perekonomian Masyarakat Desa Sei Tatas, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia karya Rahmah et al., rumbia atau nipah merupakan jenis pohon yang banyak tumbuh di daerah tropis.
Daun rumbia memiliki serat yang kuat dan lentur sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku atap yang ramah lingkungan.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Teguh Aryanto mengatakan, pada masa lalu hampir seluruh rumah di Indonesia menggunakan atap berbahan ijuk atau rumbia. Namun, kini jenis atap tersebut lebih banyak ditemukan pada rumah-rumah di daerah pedalaman.
“Pada masa dahulu, seluruh rumah di Nusantara, memakai atap berbahan dasar ijuk atau rumbia karena berbahan dasar alami,” kata Teguh mengutip detikProperti, Jumat (31/7).
Ia menjelaskan, atap ijuk dan rumbia dibuat dari bahan alami pepohonan yang terlebih dahulu melalui proses pengeringan sebelum digunakan sebagai material atap.
Menurut Teguh, secara teknis atap ijuk dan rumbia masih memungkinkan untuk diterapkan kembali. Namun, material tersebut dinilai sudah tidak praktis untuk kebutuhan rumah modern. Terlebih, saat ini industri yang memproduksi atap berbahan ijuk dan rumbia juga sudah tidak tersedia.
Masyarakat kini memiliki banyak pilihan material atap yang dinilai lebih kuat dan tahan lama. Berbagai material tersebut juga menawarkan solusi terhadap sejumlah kelemahan yang dimiliki atap ijuk dan rumbia.
“Banyak kelemahan dari bahan tersebut (ijuk dan rumbia), seperti mudah terbakar, dan rentan akan kebocoran,” ucapnya.
Sebelumnya, Prabowo meminta masyarakat Indonesia berhenti menggunakan seng dan asbes sebagai material atap rumah. Sebagai gantinya, ia mendorong penggunaan genteng dan menyebut ijuk serta rumbia sebagai bagian dari identitas rumah asli Indonesia.
“Aslinya bangsa Indonesia tidak memakai seng. Kalau perlu kita kembali pakai ijuk, kembali pakai rumbai, kalau tidak kita harus cari (alternatif). Rakyat kita dari dulu bisa bikin genteng kok, genteng bukan teknologi baru, rakyat kita dari dulu pakai genteng,” kata Prabowo dalam acara Peresmian Revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (31/7).
Prabowo juga menyebut penggunaan atap seng dapat menimbulkan masalah kesehatan ketika mengalami karat. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak terhadap kesehatan penghuni rumah.











Leave a Reply
View Comments