Republish.id, SULBAR – Tangis pecah di jalur pegunungan Desa Ratte, Kecamatan Tubbi Taramanu (Tutar), Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Di tengah jalan berlumpur, licin, dan berbatu, puluhan warga bergantian menandu seorang ibu hamil demi mendapatkan pertolongan medis.
Ibu muda tersebut diketahui bernama Masni (27). Pada Sabtu, 16 Mei lalu, ia harus dibawa sejauh sekitar 9 kilometer menuju titik yang dapat dilalui kendaraan karena ambulans tidak mampu menjangkau desa akibat kondisi jalan yang rusak parah.
Perjuangan warga menandu Masni sempat terekam kamera dan viral di media sosial. Dengan peralatan seadanya, warga menggunakan bambu dan kain sarung sebagai tandu darurat untuk membawa Masni dari Desa Ratte menuju Desa Taramanu Tua.
Selama kurang lebih empat jam perjalanan, warga harus melewati hutan, menyeberangi sungai berbatu, hingga melintasi tebing curam dan jalan licin. Meski kelelahan, mereka terus bergantian memikul tandu sambil memberi semangat kepada Masni yang menahan sakit hendak melahirkan.
“Sempat sampai di rumah sakit pasien dioperasi (sesar). Anaknya tidak tertolong,” kata Kepala Desa Ratte, Habri, mengutip Liputan6.com.
Bayi Tak Selamat
Setibanya di Desa Taramanu Tua, Masni kemudian dibawa menggunakan mobil menuju RS Pratama Wonomulyo. Namun perjuangan panjang tersebut berakhir pilu. Bayi yang dikandungnya tidak berhasil diselamatkan setelah Masni menjalani operasi sesar.
Masni disebut mengalami pecah ketuban saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Habri menjelaskan, sebelum dirujuk ke rumah sakit, Masni sempat mendapat penanganan di Poskesdes Ratte. Namun rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap tidak langsung dilakukan karena belum mendapat persetujuan dari pihak keluarga.
“Sempat di situ beberapa malam dan sudah disampaikan agar segera dirujuk ke fasilitas yang lebih memadai, tapi tidak langsung disetujui oleh yang bersangkutan,” sambungnya.
Sudah Berulang Kali Terjadi
Menurut Habri, jalur yang ditempuh warga merupakan akses alternatif sepanjang sekitar sembilan kilometer yang melewati kawasan hutan dan sejumlah sungai besar. Sementara jalur utama menuju desa mencapai sekitar 20 kilometer dan kini rusak parah akibat musim hujan.
“Itu memang jalan alternatif dari Ratte ke Taramanu kurang lebih sembilan kilometer, melewati kawasan hutan dan beberapa sungai besar. Kalau lewat jalan utama di Piriang sekitar 20 kilometer. Saat ini lagi parah-parahnya karena musim hujan, lebih jauh dan tidak bisa ditembus motor apalagi mobil,” tuturnya.
Salah seorang warga, Aco Yaqub, mengatakan peristiwa warga menandu pasien bukan kali pertama terjadi di Desa Ratte. Jalan yang rusak membuat warga kerap harus membawa pasien secara manual agar bisa mendapatkan pertolongan medis.
“Sudah puluhan kali warga harus menandu pasien di jalur ini. Kami berharap pemerintah serius memberikan perhatian, memperbaiki jalan kami sebagaimana di daerah lain, sehingga kesulitan yang dirasakan warga akibat jalan rusak dapat teratasi,” pungkasnya.













Leave a Reply
View Comments