Republish.id, NASIONAL – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport tidak berada pada jalur penerbangan yang seharusnya sebelum akhirnya jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Fakta tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (20/01).
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan, Pengatur Lalu Lintas Udara (Air Traffic Control/ATC) Makassar telah mengarahkan pesawat untuk bersiap memasuki jalur tertentu sebagai persiapan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Namun, posisi pesawat terdeteksi berada di luar rute yang semestinya hingga akhirnya terus keluar jalur dan mengalami kecelakaan.
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi’i, menyampaikan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan korban selamat.
“Tidak ada [korban yang selamat]. Saya sampaikan kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup,” katanya, Selasa (20/01).
Ia menambahkan, lokasi jatuhnya pesawat berada di medan yang sulit dijangkau dengan kondisi cuaca yang kerap ekstrem. Meski demikian, upaya pencarian dan evakuasi tetap dilakukan secara maksimal.
“Sambil kita mengumpulkan puing-puing untuk nanti diserahkan kepada KNKT,” tambahnya.
Kronologi Keluar Jalur Penerbangan
KNKT memaparkan, pada Sabtu (17/01) pukul 12.23 Wita, ATC Makassar Area Terminal Services Center (MATSC) mengarahkan pesawat untuk bersiap memasuki jalur pendaratan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Prosedur tersebut seharusnya dimulai dari titik Araja, kemudian menuju Openg dan Kabip.
Namun, pesawat ATR 42-500 tidak terbang ke titik Araja. Ketika diminta memotong jalur langsung ke Openg, pesawat tetap berada di luar rute.
“Kami juga belum bisa menyampaikan kenapa alasannya,” tutur Soerjanto dalam rapat kerja tersebut.
Karena titik Openg telah terlewat, pesawat diminta menuju Kabip agar ATC dapat mengaktifkan Instrument Landing System (ILS) secara otomatis.
ILS berfungsi memandu pesawat mendarat dengan aman, terutama dalam kondisi jarak pandang terbatas. Namun, pesawat terus menyimpang dari jalur.
“Nah, terakhir komunikasinya bahwa ATC menanyakan apakah dia [pesawat] berbelok ke kanan dengan heading 245. Diharapkan dia heading 245 itu bisa memotong ILS itu sehingga alat pandu pendaratan otomatisnya bisa bekerja,” jelas Soerjanto.
“Nah, tapi di situ keburu pesawatnya sudah crash [jatuh],” imbuhnya.
Pencarian dan Evakuasi Korban
Tim SAR gabungan masih melakukan penyisiran lanjutan di lokasi kejadian untuk menemukan korban serta bagian-bagian pesawat.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengatakan fokus pencarian diarahkan pada area temuan awal.
Tim SAR dibagi ke dalam sembilan regu pencarian. Lokasi jatuhnya pesawat berada di tebing curam dengan perkiraan kedalaman mencapai 500 meter dari puncak gunung. Hingga kini, dua korban telah ditemukan di area yang berdekatan, namun berada di jurang yang sangat ekstrem.
“Kedalaman korban diperkirakan ada di 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung,” kata Mohammad Syafii.
Ia menegaskan tantangan utama operasi adalah kondisi alam yang berat, kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat.
Basarnas memprioritaskan evakuasi melalui jalur udara, namun upaya tersebut belum memungkinkan akibat jarak pandang yang sangat terbatas.
“Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, tetapi hingga saat ini belum memungkinkan. Oleh karena itu, kami mengoptimalkan unsur darat yang secara bertahap melakukan pencarian dan upaya evakuasi,” ungkap Syafii.
Proses Identifikasi Korban
Sementara itu, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan terus melakukan tahapan identifikasi korban. Hingga Senin (19/01), delapan keluarga korban telah menjalani pemeriksaan antemortem di RS Bhayangkara Makassar.
Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, menyebut pemeriksaan antemortem merupakan tahapan awal yang krusial.
“Sejauh ini sudah ada delapan keluarga korban yang menjalani pemeriksaan antemortem. Tim DVI Polda Sulsel dibantu DVI Mabes Polri dan Bareskrim Polri telah melakukan pengumpulan data awal,” ujarnya.
Data yang dikumpulkan meliputi sampel DNA, rekam medis, ciri khusus, serta dokumen pendukung lainnya. Dua keluarga korban lainnya dijadwalkan menyusul.
Berdasarkan data manifes, pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut membawa 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.
Setelah seluruh data antemortem terkumpul, proses identifikasi akan dilanjutkan dengan pemeriksaan postmortem setelah penyerahan resmi dari tim SAR.








Leave a Reply
View Comments