Guru SMK Dikeroyok Oknum TNI AL Usai Tegur Karaoke Tengah Malam, Warga Talaud Turun ke Jalan

Guru SMK Dikeroyok Oknum TNI AL Usai Tegur Karaoke Tengah Malam, Warga Talaud Turun ke Jalan, (Foto: Tangkapan layar FB Dro T).

Republish.id, SULUT – Ketegangan pecah di Pelabuhan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, setelah seorang guru SMK menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh oknum prajurit TNI Angkatan Laut. Insiden yang terjadi Kamis (22/1/2026) malam itu berbuntut panjang hingga memicu aksi demonstrasi besar-besaran dari masyarakat setempat.

Korban utama diketahui bernama Berkam Saweduling, guru SMK asal Talaud. Ia diduga dikeroyok oleh sekelompok oknum prajurit TNI Angkatan Laut yang disebut berada dalam pengaruh minuman keras. Peristiwa bermula saat korban menegur kebisingan pesta karaoke yang berlangsung hingga larut malam di kawasan pelabuhan.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kepulauan Talaud, AKBP Arie Sulistyo Nugroho, membenarkan adanya laporan resmi dari masyarakat terkait kejadian tersebut. Pihak kepolisian menerima laporan dengan jumlah terduga pelaku sebanyak enam orang.

Insiden bermula sekitar pukul 21.00 WITA, ketika sejumlah oknum prajurit TNI Angkatan Laut menggelar karaoke di area Pelabuhan Melonguane dengan volume musik tinggi yang mengganggu ketenangan warga sekitar.

Baca Juga :  DPD dan DPC PJS Se-Sulut Resmi Dilantik, Ketum DPP: Ini Langkah Besar untuk Jurnalisme yang Profesional

Sekitar pukul 23.30 WITA, Berkam yang merasa terganggu mencoba menegur kelompok tersebut. Namun, teguran itu justru memicu emosi para oknum. Mereka kemudian mengejar dan mengeroyok korban secara membabi buta.

Polres Kepulauan Talaud mencatat jumlah korban yang awalnya satu orang kemudian bertambah menjadi enam orang. Lima warga lainnya yang datang untuk menanyakan kejadian turut menjadi sasaran penganiayaan. Total enam warga mengalami luka akibat tindakan kekerasan tersebut.

Berkam Saweduling mengalami luka cukup serius hingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit, bahkan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai. Sementara itu, lima korban lainnya juga mengalami cedera fisik dan menjalani perawatan medis di rumah sakit setempat.

Baca Juga :  Diduga Lakukan Kekerasan Terhadap Anak, Pria di Manado Diamankan Polisi

Demonstrasi Masyarakat Adat ke Mako Lanal Melonguane

Peristiwa ini memicu gelombang protes dari masyarakat Talaud. Pada Jumat (23/1/2026) siang, ratusan massa yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Adat Melonguane menggelar aksi demonstrasi di Markas Komando Pangkalan TNI Angkatan Laut (Mako Lanal) Melonguane.

Bastian, salah satu pemimpin aksi, menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, massa meminta Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Panglima TNI menindak tegas oknum TNI Angkatan Laut yang melakukan penganiayaan terhadap Berkam Saweduling, putra asli Melonguane.

Tuntutan kedua, massa mendesak pencopotan Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Melonguane apabila para pelaku tidak ditindak tegas, sekaligus menuntut proses hukum yang transparan.

Sementara tuntutan ketiga meminta agar kapal angkatan laut yang berada di Pelabuhan Laut Melonguane dilepas sementara dari wilayah kedaulatan Melonguane hingga masyarakat memperoleh kepastian hukum terhadap para pelaku.

Baca Juga :  Kapolda Sulut Cek Kesiapsiagaan Personel dan Sarpras Jelang Pemilu 2024

Menanggapi hal tersebut, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Melonguane, Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, menyatakan pihaknya telah melakukan mediasi dengan keluarga korban. Ia menyebut permasalahan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan melalui proses mediasi.

TNI Angkatan Laut juga dikabarkan telah mengambil langkah internal terhadap para prajurit yang diduga terlibat. Danlanal memastikan seluruh oknum diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku di lingkungan TNI.

Para terduga pelaku penganiayaan telah diproses melalui pengadilan militer guna memastikan keadilan bagi para korban sekaligus memberikan efek jera.

Di sisi lain, sejumlah saksi mata mengungkapkan bahwa perilaku oknum prajurit TNI Angkatan Laut yang mengganggu ketertiban warga bukan kali pertama terjadi.

Kebiasaan mabuk dan membuat keributan di kawasan pelabuhan disebut sudah berulang kali terjadi tanpa penindakan tegas, sehingga memicu kemarahan masyarakat dan tuntutan agar disiplin internal TNI diperketat.

Redaksi Republish.id